Umurnya sekitar 70 tahun, selalu ceria, ramah dan pandai menyenangkan orang. Itulah kesan yang aku rasakan saat pertama berjumpa dengannya. Setiap orang yang dia jumpai senantiasa dia ajak berbicara ala kadarnya, tapi tidak terkesan basa – basi, tulus dan apa adanya. Pupi’ juga ringan tangan, sering membantu siapa saja di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Biasanya kami berikan uang, beras, makanan atau apa saja untuk dia bawa pulang ke rumah. Bahkan saat ibu – ibu terlupa atau tidak punya uang Pupi’ akan tetap membantu mereka  tanpa diminta.

            Suatu hari nenekku yang biasa menemaniku, pulang ke Jawa menengok cucu – cucunya yang lain. Waktu itu aku tengah hamil 6 bulan anakku yang kedua. Praktis aku kerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, yang seorang diri.... Biasanya nenek banyak sekali membantuku seperti memasak dan pekerjaan yang tidak terlalu berat lainnya. Bagiku terasa berat juga karena pagi aku ke kantor sore aku praktek. Hari itu, seperti biasa setelah sholat subuh aku siapkan sarapan untuk suami dan anak – anak, setelah semuanya beres, aku bergegas untuk menyapu halaman. Tapi lamat – lamat aku dengar suara kresek – kresek. Yah..., itu pasti suara lapu lidi yang bersentuhan dengan tanah, tapi siapa??... Bukankah nenek masih 2 pekan lagi kembali. Lalu cepat – cepat aku buka pintu rumah. Kemudian dengan ramah dan wajahnya yang cerah Pupi menyapa.

”Assalamu’alaikum Bu Dokter, eh.... Saya kira ibu di Rumah Sakit. Kata orang – orang kampung Ibu sudah melahirkan”

”Hemmm.....”. Aku tersenyum lebar mendengarnya.

 ”Ah Papuq bisa aja, Saya kan masih hamil 6 bulan, masa sudah melahirkan. Oh iya puq nggak usah repot – repot saya sapu sendiri saja, Terima kasih ya Puq”.

”Nggak pa – pa kok, saya yang sapu. Sekalian olahraga”. Dan papuq terus saja menyapu.

Ah..... Papuq, engkau begitu ikhlas dan mudah menolong orang lain, padahal belum tentu hari ini engkau dapatkan sesuap nasi untukmu dan keluargamu. Tapi Engkau tak pernah lupa ”membantu sesama”, ”menolong orang lain”. Begitu ringannya tanganmu kau ulurkan untuk kami, yang dari segi materi, kami jauh melimpah.... Andaikata aku sepertimu..., oh tidak..... Aku harus bisa seperti itu, begitu hatiku berkata.

            Oya, aku lupa kenapa Papuq (papuq adalah bahasa sasak yang artinya kakek) biasa dipanggil Pupi’, yang kedengarannya Funky abiz. Jadi namanya adalah Sapi’i dan biasa dipanggil Pi’i atau Pi’ jadi kalo disingkat jadi Pupi’..... Hari Sabtu 2 Dzulhijjah 1427H atau tepatnya 23 Desember 2006 aku melahirhan Putraku yang ke-2, beberapa hari setelah itu papuq mengunjungiku, tentunya ini bukan yang pertama dia berkunjung setelah aku melahirkan. Seperti biasa dia membawa daun katuk untuk disayur, katanya biar ASI ku lancar. Aku masih memegang sayur yang Papuq berikan ketika tiba2 mataku memanas dan berkaca – kaca karena aku terharu, begitu perhatiannya papuq dan begitu ikhlasnya dia membawakanku daun katuk, hampir setiap hari. Padahal, jujur mungkin termasuk jarang aku memberinya sesuatu, hanya kadang – kadang saja. Tiba – tiba aku teringah taujih Ust. Mas’ud tentang indahnya Surga dan dahsyatnya api Neraka... Ya Allah, kalo Engkau ijinkan Aku dan Papuq memasuki Surga – Mu, dari pintu – pintu yang kau sediakan....Pasti tempat Papuq lebih tinggi dan lebih indah dari tempatku...., karena aku tahu dia adalah hamba – Mu yang ikhlas, hamba – Mu yang selalu menolong orang lain tanpa mengharap apapun. hamba – Mu yang Dhuafa tapi Lebih Kaya hatinya dari kami...., hamba – Mu yang senantiasa memberikan cinta yang tulus....tak terasa butiran hangat jatuh, meluncur dengan derasnya.... Tak tertahankan rasa haruku mengingatmu.

 

Papuq....

Ajari kami mencintai orang lain seperti engkau mencintai mereka...

Ajari kami memberi kepada orang lain baik saat kami kekurangan ataupun lebih seperti engkau memberi apapun yang engkau punya kepada mereka....

Ajari kami menjadi orang yang ikhlas bukan orang – orang yang pamrih dan selalu pamer amal seperti  keikhlasanmu....

Ajari kami membantu orang lain sebelum mereka memintanya seperti engkau membantu mereka...

 

Terimakasih papuq....., akan kuingat selalu keteladananmu, doakan aku mampu sepertimu.......

                                                                       

 

 

Mataram, Medio Desember 2007

 


prambanan wrote on Dec 9, '07
Kalau kita melihat sekeliling kita lebih cermat dan tanpa prasangka, banyak orang baik dan pelajaran ya dapat kita petik ya Bu?
Papuq ..luar biasa, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik buat Papuq, amin
rifanacholidah wrote on Dec 13, '07
Kalau kita melihat sekeliling kita lebih cermat dan tanpa prasangka, banyak orang baik dan pelajaran ya dapat kita petik ya Bu?
Papuq ..luar biasa, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik buat Papuq, amin
Iya pak gogod.... betul sekali. oya pak gogod rumahnya di Prambanan? saya pernak kuliah di Solo...
r4inbow wrote on Dec 13, '07
Banyak yang secara materi lebih kekurangan dari kita mbak, tapi secara jiwa mereka jauuuuuuuh sekali lebih kaya.
prambanan wrote on Dec 14, '07
pak gogod rumahnya di Prambanan?
rumah orangtua kok yang di prambanan
sekarang udah jadi "transmigran" di Balikpapan hehehe
pernah dinas di solo juga bu?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Bernd Willenberg